Desain Arsitektur Integrasi (Integration Architecture Design) memiliki dua interpretasi utama yang bergantung pada konteksnya: dalam bidang teknologi informasi (IT), ini merujuk pada arsitektur yang menghubungkan sistem, data, dan proses yang berbeda; dalam bidang arsitektur bangunan/desain perkotaan, ini merujuk pada strategi desain yang memadukan bangunan dengan lingkungan sekitarnya (alam, lanskap, atau komunitas).
Berdasarkan hasil pencarian, berikut adalah kerangka desain dari kedua bidang tersebut.
I. Arsitektur Integrasi di Bidang TI (Integration Architecture)
Tujuannya adalah untuk memecahkan masalah “pulau data” dan mencapai pertukaran data serta kolaborasi proses bisnis antar sistem yang heterogen. Desain yang matang biasanya mencakup tiga tingkat berikut:
1. Gaya Integrasi (Integration Style)
Ini adalah titik masuk desain tingkat tertinggi, menentukan jenis sumber daya yang akan diintegrasikan. Gaya umum meliputi:
- Integrasi Proses (Process Integration): Mengotomatiskan alur kerja lintas sistem, seperti proses dari pesanan hingga penagihan .
- Integrasi Data (Data Integration): Menyinkronkan atau mengakses data, termasuk replikasi data (ETL), virtualisasi data, dll. .
- Integrasi Pengguna (User Integration): Menyediakan antarmuka terpadu, seperti portal tunggal atau integrasi UI .
- Integrasi Analitik (Analytics Integration): Mengumpulkan data dari berbagai sumber ke platform analitik .
2. Pola Integrasi (Integration Pattern)
Ini adalah solusi umum untuk masalah topologi atau komunikasi tertentu. Beberapa pola yang paling klasik meliputi:
- Point-to-Point: Koneksi langsung antar sistem, cocok untuk jumlah sistem yang sedikit dan koneksi yang stabil, tetapi tidak mudah diperluas .
- Hub-and-Spoke / Enterprise Service Bus (ESB): Melalui bus pusat untuk meneruskan dan mengubah pesan, mengurangi koneksi langsung antar sistem yang rumit .
- Publish-Subscribe: Produsen pesan (Publisher) mengirim pesan ke bus peristiwa, dan konsumen (Subscriber) berlangganan sesuai kebutuhan, mencapai kopling yang longgar .
- API-Led: Pendekatan integrasi yang dipelopori oleh MuleSoft dan lainnya, membungkus kemampuan sistem menjadi API untuk digunakan kembali, biasanya dibagi menjadi tiga lapisan: System API, Process API, dan Experience API .
3. Implementasi Teknologi (Technology Enabler)
Desain perlu diterapkan melalui middleware atau platform tertentu. Misalnya, platform iPaaS (Integration Platform as a Service) di cloud, ESB lokal, atau gateway API. Dalam lingkungan cloud, “Event-Driven Integration” (integrasi berbasis peristiwa) juga semakin menjadi arus utama untuk mencapai respons real-time .
II. Arsitektur Integrasi di Bidang Bangunan/Lanskap (Architectural Integration)
Dalam desain arsitektur, “integrasi” biasanya merujuk pada hubungan antara bangunan dengan lingkungan sekitarnya, ekosistem, atau konteks budaya. Berdasarkan literatur akademik, strategi desain yang umum meliputi:
1. Integrasi Ambang Batas (Threshold Integration)
Fokus pada ruang transisi antara interior dan eksterior. Misalnya, dalam strategi renovasi sebuah gedung kementerian di Jakarta, desainer menggunakan ruang ambang batas untuk menghubungkan interior dan eksterior, menjadikan gedung sebagai perpanjangan dari hutan kota, memperkuat hubungan antara bangunan dan lingkungan alam sekitarnya .
2. Tiga Strategi Integrasi Lanskap
Dalam desain ekowisata di lahan basah atau lingkungan sensitif, biasanya digunakan strategi berikut:
- Naturalisasi: Mengadopsi strategi daur ulang air, efisiensi energi, dll., untuk meminimalkan dampak negatif bangunan terhadap lingkungan .
- Kontekstualisasi: Mengekstrak elemen dari konteks lokal (seperti bentuk sarang burung di lahan basah) untuk diterapkan pada desain, agar bangunan dapat menyatu dengan konteks .
- Mimesis: Menggunakan massa yang tersebar atau material yang selaras dengan lingkungan, membiarkan bangunan “tersembunyi” di lanskap, menghindari perebutan perhatian dengan lingkungan alam .
3. Integrasi Ekologi dan Komputasi
Proyek penelitian ECOLOPES Eropa mengeksplorasi bagaimana menggabungkan model ekologi (seperti tanaman, hewan, mikroorganisme) ke dalam desain komputasi arsitektur. Misalnya, melalui plugin Rhino/Grasshopper, mensimulasikan kinerja ekologi dari selubung bangunan 3D, sehingga desainer dapat mengevaluasi dampak desain terhadap organisme non-manusia selama proses desain .